BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk

27 05 2008

Kenapa pemerintah SBY-JK ngotot menaikkan harga BBM? Ternyata, hal itu dilakukan agar segera mencapai tingkat harga yang diinginkan oleh pemain asing. Jadi kenaikan BBM itu tidak untuk rakyat dan tidak juga untuk menyelamatkan APBN.

Demikian disampaikan Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia, saat berbicara di depan ratusan peserta acara diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38, bertema BBM Naik, SBY-JK Turun?, di Jakarta, Senin (19/5).

Menurut Ismail, kesimpulan itu berdasarkan pernyataan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro yang ditulis di Kompas, 14 Mei 2003. Purnomo mengatakan, “Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.”

Meski pernyataan itu sudah lama, tapi menurut Ismail kita baru menemukan faktanya sekarang. “Ini ironi, kita membeli minyak milik kita sendiri di halaman rumah kita, dengan harga yang ditentukan oleh asing, ” ujar Yusanto.

Saat ini saja, tambahnya, mengutip pernyataan Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, di Majalah Trust (edisi 11/2004), terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU). Perusahaan migas raksasa itu antara lain British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Serikat Pekerja Pertamina, Abdullah Sodik. Menurutnya, problem kelangkaan BBM itu sebenarnya diakibatkan oleh rusaknya sistem yang diberlakukan pemerintah, yang membuka peluang privatisasi pengelolaan gas. “Serta memberikan kewenangan kepada perusahaan asing dan domistik untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak. Bahkan dibiarkan juga untuk menetapkan harga, ” ujarnya.

Wajar bila kemudian, tambah Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen. Selebihnya masuk kategori Major, seperti Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex, yang menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. “Sedangkan perusahaan independent menguasi cadangan minyak 12 persen, dan gas 5 persen, ” terang Sodik.

Melihat fakta itu logis bila kemudian kita mengalami masalah dengan BBM. Logis pula bila rakyat banyak yang menolak rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi itu. Sebab rakyat lah akan menjadi korban akibat kebijakan yang tidak populis ini.

”Saya juga tidak setuju kenaikan BBM, ” ujar Abdullah Sodik. “Kita harus menyadari minyak bumi itu bukan dibuat oleh pemerintah. Tapi minyak bumi itu dibuat oleh Allah. Karena itu rakyat berhak mendapatkan subsidi. Kenapa ketika pemerintah menyubsidi rakyat sendiri pemerintah kalang kabut, ” tambahnya.

Ekonom Tim Indonesia Bangkit, Hendri Saparini, juga tidak sepakat bila harga BBM dinaikkan. Pertimbangannya adalah ekonomi. Ketika pemerintah mengatakan kita akan kolaps kalau tidak segera menaikkan harga BBM, maka publik harus tahu bahwa yang dimaksud kolaps menurut pemerintah itu adalah APBN. Sementara APBN itu terhadap kue ekonomi besarnya hanya 20 persen. “Jadi kalau harga BBM dinaikan, maka yang kena dampaknya 80 persen adalah rumah tangga dan industri, ” ujarnya.

Hendri mengatakan, kalau ada kenaikan harga minyak dunia, jika memang pemerintah itu akan menyelamatkan APBN maka semestinya pos yang boleh dikotak katik tidak hanya subsidi BBM. Karena kita punya pos-pos lain yang dalam kondisi darurat mestinya bisa direvisi. “Kenapa yang halal hanya subsidi BBM, kenapa pembayaran utang luar negeri menjadi tidak halal, ” ujar Hendri heran.

Ismail menegaskan ini semua terjadi karena adanya liberalisasi di sektor migas, yang merupakan bagian dari liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, liberalisasi sosial, budaya, pendidikan. Inilah yang harus dilawan. Sebab Indonesia makin hari makin menuju kepada negara liberal. “Dan siapa yang menjadi korban, kita semua, ” terangnya.

Solusi

Seperti dikatakan Hendri Saparini, pemerintah seharusnya tidak menaikan harga BBM, sebab masih banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan APBN, terkait meningkatnya harga minyak dunia itu. Peserta Diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38 mengusulkan solusi jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah:

Pertama, pemotongan bunga rekap di APBN sebesar 40-60 triliun.

Kedua, pemotongan bunga utang 95 triliun,

Ketiga, Winfall profit dari hasil minyak bumi tidak perlu dibagi ke daerah, tetapi digunakan untuk menutupi subsidi BBM.

Keempat, membatalkan kontrak/nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak asing.

Dan kelima, mengubah sistem pengelolaan BBM, gas, batu bara dan energi lainnya dari swasta ke pengelolaan negara.

Terkait dengan wacana nasionalisasi perusahaan asing, Hendri Saparini mengatakan, “Kita memang selalu sering dicekoki bahwa nasionalisasi itu tidak boleh. Padahal banyak fakta, ketika negara lain melakukan nasionalisasi tidak ada masalah…Fakta terbaru, Inggris barus saja melakukan nasionalisasi bank –nya. Jadi jangan kita kemudian ditakut-takuti oleh sesuatu yang sebenarnya itu bisa terjadi di negara-negara maju, ” ujar Hendri.

Bukan hanya nasionalisasi, kata Hendri, kita juga selalu ditakut-takuti siapa pun yang menjadi presidennya dia pasti menaikan harga BBM. Padahal jawabannya tidak. “Pertama untuk beban subsidi misalnya, sekarang ini PLN masih menggunakan BBM. Kalau kemudian kita mengganti dengan gas maka tidak perlu ada tambahan subsidi. Masih juga ada hal lain. Jadi tidak sama. Bukan siapa pun presidennya akan menaikkan BBM, tapi kalau kebijakannya sama maka akan menaikkan BBM juga, ” ujar Hendri.

Ismail Yusanto mengatakan, kesalahan utama pengelolaan migas dan SDA kita adalah terjadinya transpormasi atau perpindahan dari State Business Management ke Coorporate Business Management. Oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah mengembalikan bagaimana agar entitas negara itu kembali menjadi pilar utama pengelolaan SDA, termasuk migas. Untuk itulah, katanya perlu dilakukan perubahan total atas UU migas dan PMA yang ada. Juga perubahan atas mind set ideologi yang ada. [LI/Abu Ziad]

eramuslim.com
Iklan




Rabbi Y.D Weiss: Lebih dari 25% Orang Yahudi Tolak Zionisme

26 05 2008

Rabbi Y.D Weiss: Lebih dari 25% Orang Yahudi Tolak Zionisme
Jumat, 16 Mei 08 05:25 WIB

Selain membutuhkan dukungan dari berbagai negara, juru bicara di Neturei Karta International Rabbi Yisroel Dovid Weiss mengatakan, harus ada kerja sama mendidik masyarakat agar dunia dapat memahami apa yang terjadi di wilayah Palestina. Jika sudah tercipta pemahaman yang sama, persatuan akan lebih mudah diciptakan sehingga dunia mempunyai semangat yang sama untuk mengakhiri zionisme di Palestina.
”Persoalan di Palestina ini adalah gerakan politik yang dilakukan oleh tiga agama secara bersama-sama. Tak ada hubungan dengan agama. Kita harus mendidik masyarakat agar mereka dapat memengaruhi politikus dan pemerintahnya, ” katanya dalam seminar internasional Freedom and Right of Return: Palestine and 60 Years of Etnic Cleansing, di Wisma Makara, Universitas Indonesia, Depok.
Rabbi Yisroel Dovid Weiss menegaskan, tidak akan ada perdamaian jika Israel masih menduduki Palestina. ”Kita harus terus berdoa agar segera tercapai perdamaian, ” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ia mengatakan, zionisme Israel bukan bagian dari umat Yahudi. Menurut Weiss, pemahaman menyeluruh atas perbedaan zionisme dan Yahudi diperlukan untuk mencari solusi atas situasi yang terjadi di Palestina saat ini. Selama 60 tahun terjadinya krisis, lanjutnya, solusi terbaik yang menguntungkan bangsa Palestina belum juga ditemukan dan pada saat yang sama posisi bangsa Palestina semakin lemah.
Ia mengatakan, masalah mulai muncul karena zionisme lahir. Zionisme itulah yang menjadi benih konflik di Palestina saat ini. Weiss juga menyakinkan, tak semua orang Yahudi mendukung zionisme.
”Lebih dari 25 persen Yahudi justru menolak zionisme itu. Kita harus memiliki optimisme akan kemenangan dan kemerdekaan Palestina, ” ujarnya.
Rabbi Yisroel Dovid Weiss juga menyatakan, zionisme sudah mengacaukan perdamaian yang terjalin selama ratusan tahun di antara komunitas masyarakat yang berbeda di Palestina. Konflik terjadi akibat propaganda pihak luar, seperti Amerika Serikat dan Israel.
”Saya minta agar kaum Muslim berhati-hati. Jangan sampai terperangkap dengan propaganda itu, ” ungkapnya dengan nada berapi-api.
Rabbi Yisroel Dovid Weiss, juga mengatakan, mengusir warga Arab bukanlah solusi yang tepat untuk menciptakan perdamaian.
”Selama bertahun-tahun sudah terbukti orang Yahudi dan Arab bisa hidup berdampingan secara damai di Palestina, ” tandasnya.(novel)
http://eramislim.com





baksos hardiknas…

12 05 2008

ass wr wb….
sebelumnya afwan kalau blog ini jarang di update. dan juga kepada seluruh pembaca/pengunjung mohon bantuannya untuk mengirim artikel/tulisan ke email ski : skisman1sby@gmail.com

oh ya…. ski mau mengadakan gawe yang lumayan penting yaitu baksos alias bakti sosial. nih acara akan diadakan pada tanggal 17 mei 2008 (sabtu besok). acara ini mengangkat tema hari pendidikan nasional dan tempatnya berada di keputran.

bagi yang ingin menjadi donatur dapat menghubungi:
maman telp: 085648654513