Melangitkan Jilbab (Pasca Ramadan) ?

23 10 2009

Dasawarsa ini, sungguh eksentrik geliat religius yang menjangkit bangsa kita setiap bulan Ramadan tiba, jilbab mendadak jadi trend tersendiri. Jilbab pun dicampakkan ketika gemuruh bedug hari raya Idul Fitri berlalu. Sehingga wajar diberlakukannya “honoris causa ‘Jilbab Musiman’ ”. Fenomena apakah itu ?
Jilbab, dalam bahasa Arab lazim disebut chijab(penutup aurat), orisinilitasnya adalah kewajiban(fardu a’in) bagi setiap Muslimah bila berada di tempat terbuka yang memungkinkan aurat(anggota badan)nya terlihat oleh orang lain atau bukan muhrim.
Fenomena yang terjadi dan berkembang akhir-akhir ini, macam-macam istilah jilbab, “visi dan misinya” pun beragam. Ada “Jilbab Gaul”, gelar bagi para Muslimah yang mengenakan “kain jilbab’’ tapi sikapnya tidak jelas, termasuk di siang hari bulan suci Ramadan ini, –dengan berkain jilbab itu– dirinya tak segan bercumbu dengan sembarang laki-laki di tempat terbuka. Menjamur pula “Jilbab Politik”, biasa dikenakan oleh para politisi setiap musim “Silaturrahim politik” ke berbagai pondok pesantren, atau turun lapangan kampanye untuk megeruk simpati publik. Atau “Jilbab Asmara”, pakaian sang gadis jelita demi untuk meraih cinta sang pemuda tampan idamannya. Dan berbagai “jilbab” lainnya.
Terlepas dari kepentingan dan kredibilitas religius (bathin) masing-masing yang mengenakan “kain” jilbab, aspek etimologis itu semua sah-sah saja. Karena jilbab secara bahasa adalah penutup (anggota lahir badan).

Jilbab Komersial
Setiap bulan Ramadan, sekilas sungguh mempesona pamor kibaran “kain” jilbab yang dipancarkan oleh berbagai kalangan wanita. Dengan mode sedemikian rupa bagusnya.
Hebohnya ! Mereka yang terbiasa bangga menggerakkan dan memamerkan aurat badannya di berbagai media masa cetak dan elektronik pun di bulan Ramadan ini mendadak “cuti” dari profesinya. “Demi untuk memamerkan kain jilbabnya”. Spontan ngetrend “alih profesi” berlomba memproklamirkan dirinya memakai aneka busana Muslimah dengan harga tidak murah, untuk disaksikan oleh para penggemarnya sebagai “selebritis taat beribadah !”. Argumen singkat mereka “kita sangat gembira menyambut bulan suci Ramadan”.
Bahkan tak heran, banyak pula wanita non-Muslimah ditunjang dengan modal kecantikan wajahnya, sementara waktu “ikhlas menjadi bunglon” mengenakan kain jilbab, plus secara terselubung gencar mengkampanyekan hedonis, membuat banyak orang terpesona melihat “kain jilbabnya”.
Seolah-olah mereka(artis) adalah “wanita sholikhah” teladan bagi para Muslimah. Meskipun sejatinya hanya mencari simpati demi meningkatkan rating tayangan film atau acara tertentu “bereklame Islam” yang dibintangi oleh mereka setiap hari ditayangkan di berbagai stasiun televisi pada bulan suci ini.
Anehnya ? Komunitas yang benar-benar berjilbab, dengan fasilitas hidup seadanya pun, tanpa memfungsikan nalar ilmiah, tertipu dan terjebak ke dalam kubangan hedonisme. Sekalian menjadikan gaya “Jilbab Musiman” para artis yang penuh kepentingan itu,
sebagai panutan atau “kiblat” hidupnya. Inilah di anatara poin negatifnya. Kalau fenomena-fenomena tersebut terus terjadi, sungguh naif dan memilukan, bukan ?

Jilbab dan Puasa
Perspektif hukum fiqih, empat madzhab pokok ahlussunnah wal jama’ah(Hanafiyah, Hanabilah, Malikiyah dan Syafi’iyah) konsesus(ittifaq) bahwa kontinuitas memakai jilbab adalah elemen dari totalitas kewajiban(fardu a’in) bagi setiap orang Islam, dan bukanlah merupakan syarat atau rukun ibadah puasa.[1]
Kecuali aspek tasawwuf, sebagaimana opini Imam al-Ghozali dalam kitab Ihya ulumuddin -nya, untuk menuju kondisi kesempurnaan puasa(shaum al-khusus),[2] di antaranya adalah mengurangi kemaksiatan, misalnya menutup aurat badan(berjilbab) itu. QS. al-Nur/24: 31 dan al-Ahzab/33: 59, adalah ayat yang tegas menyatakan kontinuitas diwajibakannya berjilbab, “tidak hanya pada waktu tertentu, misalnya hanya pada
bulan Ramadan saja”.
Maka semestinya, bagi komunitas berjilab, terutama yang hanya ‘’sesaat’’ sedang mengenakan kain jilbab, tidak perlu lah mempublikasikankan diri di berbagai media masa. Karena asas kewajiban berjilbab : hanya karena menjalankan perintah Allah SWT (lilla-Hi ta’ala). Bukan untuk disanjung dan dipuja oleh fans club -nya.
Utamanya dalam kondisi beribadah puasa ini, harus menjauhkan diri dari virus ria dan sum’ah(mencari sanjungan dan popularitas dalam beribadah). Kalau hal tersebut bisa diterapkan, tentunya(insya Alloh) akan bisa mengusung Muslimah menuju kesempurnaan berjilbab.
Beda halnya yang ‘’sesaat’’ sedang mengenakan kain jilbab, mengeluarkan biaya ekstra mengontrak berbagai media masa, untuk mempublikasikan “jilbabnya”.
Jelas, “jilbab –isme” yang demikian terkesan penuh kepentingan. Atau paling “ikhlasnya” hanya dianggap mode berpakaian sebagai intermeso (hedonisme-nya).
Realitasnya dapat diyakini, sesuai kebiasaan dan profesi aslinya, ketika telah lewat hari raya Idul Fitri yang semestinya hari awal kembalinya fitrah(kesucian manusia), mereka pun kembali berlomba memamerkan aurat badan, sesuai inisiatif produser film yang diperankan dan menguntungkannya. Bukan malah menjaga ke-fitrahan-nya itu !
Mungkin bagi sebagian orang, “Jilbab Musiman” dengan sarat kepentingan itu, lebih baik daripada kontinu seumur hidup beryukensi plus rok mini. Akan tetapi, sesuai kewajiban syar’i(agama), nalar dan naluri manusiawi. Betapa indah dan rapinya, jika jilbab itu, kontinu(istiqomah) dipakai sepanjang masa, tidak hanya setiap bulan Ramadan saja ? Sehingga dengan kontinuitas “berkain” jilbab itu, mudah-mudahan tidak hanya badannya saja yang selalu ditutupi “kain” jilbab, tapi juga menyebabkan akhlaknya akan benar-benar turut berjilbab. Tidak seperti fenomena ironis yang telah kronis menjangkit selama ini, di antara resikonya banyak orang berceletuk menyayat hati kita “jilbab hanya kedok kemunafikan belaka”.
Firman Allah SWT, QS. al-Baqoroh ayat 183, menurut para ulama tafsir, di antaranya Syeikh al-Chozin(w 725. H), cakupan ayat tersebut menyatakan, “puasa adalah sarana bagi manusia(beriman) untuk bisa mengusung diri menjadi bagian dari golongan orang-orang yang bertakwa(la’allakum tattaqun)”.[3] Kadar ketakwaan tersebut, tidak terbatas konteks jilbab, tapi totalitas berbagai elemen dan aspek religius.
Ya ! Semoga dengan berkah bulan suci Ramadan ini, berawal dari berkibarnya simbolis “Jilbab-isme Musiman” itu, akan tercipta milyaran jilbab yang benar-benar jilbab, murni atas amaliah agama. Tidak mencampakkan jilbab ketika bulan Ramadan usai. Apakah ilmiah, realistis dan logis ?

*Nasrulloh Afandi, Dewan Asatdiz PV. alumni pesantren Lirboyo Kediri, anggota pembina pesantren Kedungwungu Krangkeng Indramayu; aktivis mahasiswa NU di Marocco.

Dikutip by Izzano Monzila (Kadiv Website 2008-2009)





Istiqomah, Istikharah dan Istighfar

23 10 2009

Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti, kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup. Oleh sebab itu agar tidak terombang ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalam dalam hidup. Salah satu pegangan dan amalan penting yang diberikan agama kita untuk menghadapi kehidupan ini adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

1. Istiqomah, yaitu kokoh dalam dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. Begitu pentingnya Istiqomah ini sampai Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasalam berpesan kepada seseorang seperti dalam hadits berikut:

عن أبي سفيان بن عبد الله رضي الله علنه قال: قلت يا رسول الله، قل لي فى الإسلام قولا لا أسأله عنه أحدا غيرك، قال: قل آمنت بالله ثم استقم (رواه مسلم)

Dari Abu Sufyan bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu berkata: Aku telah berkata, “wahai rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu berkata pada orang lain selain engkau. Nabi menjawab,”katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah”.
Orang yang istiqomah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada tantangan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halam, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.
Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-qura’an surat fusilat ayat 30

. إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhakan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengetakan):”janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

2. Istikharah, selalu mohon petunjuk kepada Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan. Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapakan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت.(رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة

Barang siapa yang beriman kepad Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR Al-bukhari dan muslim dari Abu Hurairah)

Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari ini dan berbicaralah besok).

Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapakn, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi apabila ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Mengenai kebebasan ini, malaikat jibril pernah datang kepada Nabi muhammad Shallahu ‘alai wa salam untuk memberikan rambu kehidupan, beliau bersabda:

أتاني جبريل فقال: يا محمد عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب ما شئت فإنك مفارق، واعمل ما شئت فإنك مجزي به. (رواه البيهقي عن جابر

Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat pasti akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatua saat pasti berpdisah juga dan lakukanlah yang engkau inginkan sesungguhny semua itu ada balasannya.(HR. Baihaqi dan Jabir)

Sabda Nabi Shallahu alihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehaendaknya tanpa mengindahkan etika agama. Para pakar barang kali untuk saat saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang kadang justru membingungkan masyarakat.
Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.

Nabi Muhammad Shallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

ما خاب من استخار ولا ندم من استشار ولا عال من اقتصد.

Tidak rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)

2. Istighfar, yaitu selalu introspeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena itu ia harus diobati.
Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instrospeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloaan Allah.
Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kesalahan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-terobosan yang produktif maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan.

Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi hud Alaihissalam, kepada kaumnya:

وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلْ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada tuhanmu lalu bertaubatlah kepadakNya, niscaya di menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan dia akan menambahkan kekuatan dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. 52)

Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan tiga amalan di atas yaitu Istiqomah, Istikharah, Isrighfar.

Mudah mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan
dengan keimanan dan rahmayNya yang melimpah. Amin

Disusun oleh Ustadz Abbas Sofwan, Lc

by Izzano Monzila (Kadiv Website 2008-2009)





Kembalinya Si Kacamata Dari Peredaran

28 09 2009

Sudah 4 bulan ini (kurang lebih…) saya pribadi tidak posting apa-apa di web SKI SMASA yang saya cintai ini. Mengapa saya kembali ? ada kalanya seorang superhero harus menyelesaikan masalahnya, Seperti saya yang manusia biasa tidak punya kekuatan apa-apa juga punya masalah. Dicuekin orangtua, Disindir orangtua, Diejek Orangtua, Dijadikan Babu oleh orangTUAAAAAA. Saya selalu memohon kepada allah agar diberikan kesabaran agar bisa menjalani ini dengan baik. Mungkinkah saya terlalu naif ? egoiskah ? atau benarkah ? selain itu masalah peer, ulangan yg tak kunjung selesai (dengan guru2 yg membuat saya sesat, dsb.), dan banyak hal yg ternyata saya sendiri tak mampu utk menyelesaikannya. Untuk para anggota dan para penerus, saya mohon dengan rencana yg matang anda akan sukses melebihi saya. Saya yakin itu karena saya tidak pernah melakukan hal seperti ini. Sukron Katsiron Jazakumulloh





Mengapa Kami Memilih Islam ?

10 07 2009

Islam adalah agama dari Tuhan, berisi tuntunan hidup yang diwahyukan kepada hambaNya untuk seluruh ummat manusia. Karena untuk tegaknya kehidupan manusia di atas planet bumi ini diperlukan dua hal:

Pertama: Terpenuhinya kebutuhan pokok berikut sumber-sumbernya untuk menjamin kelangsungan hidup, dan kecukupan material yang dibutuhkan oleh perseorangan dan masyarakat.

Kedua: Mengetahui dasar-dasar pengetahuan tentang tata-cara hidup perseorangan dan masyarakat-masyarakat, agar terjamin berlakunya keadilan dan ketentraman dalam masyarakat dan kebudayaan.

Allah Rabbul-’alamin telah menyediakan kedua macam kebutuhan itu secukupnya untuk manusia. Untuk kebutuhan pertama, Allah s.w.t. telah menyediakan sumber-sumber alam dan menyerahkannya kepada manusia untuk digali dan diolah. Dan untuk kebutuhan kedua, yakni kebutuhan kejiwaan/rohani, kemasyarakatan dan kebudayaan, Allah s.w.t. telah memilih dan mengangkat para Rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Peraturan hidup itu ialah yang dinamakan ISLAM, agama yang dibawa oleh semua Rasul.1 Semua Rasul itu telah mengajak manusia ke jalan Tuhan al-Khaliq, yakni jalan tunduk kepada Allah s.w.t. Semua Rasul telah menyampaikan risalah yang sama dan dakwah yang sama, yaitu Islam.

Islam dalam bahasa Arab, berarti tunduk dan menyerah atau taat. Sebagai satu agama, Islam berdiri di atas dasar menyerahan diri sepenuhnya dan taat kepada AIlah s.w.t. Itulah pula sebabnya, makanya agama ini dinamakan Islam.

Islam juga berarti selamat dan sejahtera. Pengertian ini menunjukkan bahwa, manusia tidak akan dapat mencapai keselamatan dan kesejahteraan yang sebenarnya, kecuali dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. Cara hidup seperti inilah, yang tetap di bawah naungan ketaatan kepada Allah s.w.t., hidup yang selalu diliputi ketenangan jiwa bagi perseorangan dan kesejahteraan/ketentraman bagi masyarakat.
Orang-orang yang beriman, yang berhati tenang dengan ingat kepada Allah. Ingatlah bahwa hati akan tenang dengan mengingat Allah. Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kebahagiaanlah untuk mereka dan tempat kembali (Surga) yang baik. (Ar-Ra’d, 28 – 29)

Itulah pokok seruan semua Rasul Allah untuk membawa alam kemanusiaan kepada jalan kehidupan yang lurus. Tetapi manusia tidak selalu berada dalam jalan yang benar. Mereka kadang-kadang menyimpang dari bimbingan yang diberikan oleh para Rasul itu. Itulah sebabnya, maka ada beberapa Rasul yang diutus guna memberikan kembali seruan/risalah yang asli dan membawa manusia ke jalan yang benar. Rasul yang terakhir ialah Muhammad s.a.w. yang telah memberikan bimbingan Allah s.w.t. dalam bentuknya yang final dan sempurna untuk segala zaman. Bimbingan inilah yang sekarang dikenal sebagai Islam, terkandung dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan contoh kehidupan Rasulullah s.a.w.(BERSAMBUNG)





Keajaiban Angka 19 dalam Al-Qur’an (1)

18 06 2009

Setiap muslim pasti meyakini kebenaran Quran sebagai kitab suci yang tidak ada keraguan sedikitpun, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Namun kemukjizatan Quran tidak hanya dibuktikan lewat kesempurnaan kandungan, keindahan bahasa, ataupun kebenaran ilmiah yang sering mengejutkan para ahli.

Suatu kode matematik yang terkandung di dalamnya misalnya, tak terungkap selama berabad-abad lamanya sampai seorang sarjana pertanian Mesir bernama Rashad Khalifa berhasil menyingkap tabir kerahasiaan tersebut. Hasil penelitiannya yang dilakukan selama bertahun-tahun dengan bantuan komputer ternyata sangat mencengangkan. Betapa tidak, ternyata didapati bukti-bukti surat-surat/ ayat-ayat dalam Quran serba berkelipatan angka 19.

Penemuannya tersebut berkat penafsirannya pada surat ke-74 ayat : 30-31, yang artinya sbb : “Yang atasnya ada sembilanbelas. .., dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (angka 19) melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang
diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata: Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?”

Hasil penemuannya yang sangat mengejutkan ini pada tahun 1976 telah didemonstrasikan di depan umum ketika diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London. Berikut cuplikan dari sebagian penemuannya tersebut :

1. Kita mengetahui bahwa setiap surat-surat dalam Quran selalu diawali
dengan bacaan “Basmalah” sebagai statement pembuka, yaitu “Bismillaahirrahmaanirraahiim” (yang artinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”). Ternyata bacaan “Basmalah” tersebut (dalam bahasa Arabnya) terdiri dari 19 huruf (atau 19 X 1 ).

2. Bacaan “Basmalah” terdiri dari kelompok kata : Ismi Allah Arrahman Arrahim. Penelitian menunjukkan jumlah dari masing-masing kata tersebut dalam Quran ternyata selalu merupakan kelipatan angka 19.

a. Jumlah kata “Ismi” dalam Quran ditemukan sebanyak 19 buah (atau 19 X 1)
b. Jumlah kata “Allah” dalam Quran ditemukan sebanyak 2.698 buah (atau 19 X 142)
c. Jumlah kata “Arrahman” dalam Quran ditemukan sebanyak 57 buah (atau 19 X 3)
d. Jumlah kata “Arrahim” dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6)

Apabila faktor pengalinya dijumlahkan hasilnya juga merupakan kelipatan angka 19 , yaitu 1 + 142 + 3 + 6 = 152 (atau 19 X 8).

3. Jumlah total keseluruhan surat-surat dalam Quran sebanyak 114 surat (atau 19 X 6).

4. Bacaan “Basmalah” dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6), dengan perincian sbb: Sebanyak 113 buah ditemukan sebagai pembuka surat-surat kecuali surat ke-9, sedangkan sebuah lagi ditemukan di surat ke-27 ayat : 30.

Dikutip dari Fahmi Basya by IZM





Tanda Pengenal Manusia pada Sidik Jari

17 06 2009

PARMAKIZ1_ind
Setiap orang, termasuk mereka yang terlahir kembar identik, memiliki pola sidik jari yang khas untuk diri mereka masing-masing, dan berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, tanda pengenal manusia tertera pada ujung jari mereka. Sistem pengkodean ini dapat disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang digunakan saat ini

Saat dikatakan dalam Al Qur’an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna.” (Al Qur’an, 75:3-4)

Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.

Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.